Sabtu, Maret 14

Kado Terindah

Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado.Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.
"Untuk apa?" tanya sang ayah.
"Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil.
"Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan
kecil.

Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan
ayahnya, "Pa, Pa ada hadiah untuk Papa."
Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab,
"Sudahlah nanti saja."

Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa, sudah siang."
"Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."

Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.
"Hadiah apa nih?"

"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang."
Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong.

Tidak berisi apa pun juga. "Ah, kamu bisa s aja. Bingkisannya koq kosong.Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?"

Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa."

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya.

"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini.

Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri,Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !"

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu
tinggi. Apa yang terjadi ?

Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong.

Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain.

Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.
Kosong dan penuh - dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" kita sendiri.

Sebagaimana kita memandangi hidup demikianlah kehidupan kita.
Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya,memberikan makna kepadanya.

Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini
ibarat lembaran kertas yang kosong...........

* Sebuah palajaran bagi kita, hadiah tak hanya berupa benda yang indah
tapi ketulusan hati dan kasih sayang adalah yang paling utama *

Rabu, Maret 4

Menerjemahkan Lewat Internet

Belum ada software yang mampu menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain dengan sempurna. Software-software yang ada sekarang menurut saya hanya bersifat membantu. Meskipun hanya membantu setidaknya kan mempercepat kita dalam bekerja atau pun mengerjakan tugas.

Jika tidak punya software penerjemah, tak perlu bingung. Google sudah menyiapkan halaman untuk menerjemahkan. Apakah bahasa Indonesia ada? Kalo tidak ada buat apa saya menulis ini di blog. Bagaimana caranya? Sangat Mudah.
  1. Cukup klik alamat ini http://translate.google.com/.
  2. Masukkan teks yang akan diterjemahkan ke kotak yang disediakan.
  3. Tentukan Bahasa misalkan Indonesia > Inggris (maksudnya Teks yang kita masukkan Indonesia & ingin dirubah ke Inggris)
  4. Klik Translate
  5. Selesai, anda tinggal mem-blok tulisan kemudian di copy dan paste di Microsoft Word.
Sekali lagi, ini hanya membantu. Bukan berarti hasil terjemahan benar 100%. Yang penting lumayan lah bisa meringankan beban daripada buka kamus.

Jalan Menuju Sukses

Seorang eksekutif muda bertemu dengan seorang guru di sebuah jalan raya. Ia bertanya, "Guru, yang manakah jalan menuju sukses?"

Sang guru terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Eksekutif muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, "Ha! Ini jalan buntu!" Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, "Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru."

Eksekutif muda itu berbalik menemui sang guru untuk menanyakan sekali lagi, "Guru, yang manakah jalan menuju sukses."

Sang guru menunjuk ke arah yang sama.

Eksekutif muda itu berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi jalan. Ia merasa dipermainkan. Dengan penuh amarah ia menemui sang guru, "Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, tetapi bicaralah!"

Akhirnya sang guru berbicara, "Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu."

Renungan : Keberhasilan seringkali tak tampak karena ia bersembunyi di balik kesulitan. Cuma orang-orang yang mampu mendaki "tembok" itulah yang akan menemui keberhasilan.

Jumat, Februari 27

Firefox in da Lab

Setelah sekian lama dipertimbangkan (meskipun kelamaan) hehe.., akhirnya siswa bisa browsing Internet melalui web browser yang satu ini. Mungkin ini salah satu kompensasi karena akses ke friendster di blok untuk sementara.

Browser ini adalah pilihan utama saya untuk berkeliling di dunia maya. Menurut saya pribadi, Firefox lebih unggul jika dibandingkan Internet Explorer (IE). Memang tidak ada yang sempurna, keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Tapi setidaknya Firefox lebih banyak kelebihannya dibanding IE.

Hal yang menjadi favorit saya ketika menggunakan firefox adalah fasilitas add on nya. Dengan ini ada banyak fitur yang bisa kita tambahkan ke firefox dengan cara men download dari situs resminya. Contoh add 0n yang saya gunakan yaitu FoxyTunes. Dengan FoxyTunes kita bisa mengontrol Winamp, Media Player dsb sehingga kita tidak perlu beralih ke Winamp untuk menganti lagu.

So, let's enjoy the Internet with Mozilla Firefox :D


Rabu, Februari 25

Mengukur Tinggi Gedung dengan Barometer

Cerita berikut berkisah tentang salah satu pertanyaan dalam ujian fisika di Universitas Copenhagen: "Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer."

Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang pada leher barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi bangunan."

Jawaban yang luar biasa orisinil ini membuat pemeriksa ujiannya begitu geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak diluluskan. Si mahasiswa naik banding atas dasar bahwa jawabannya tidak bisa disangkal kebenarannya, sehingga pihak universitas menunjuk seorang arbiter yang independen untuk memutuskan kasusnya. Arbiter menyatakan bahwa jawabannya memang benar, hanya saja tidak memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika!

Untuk mengatasi permasalahannya, disepakati bahwa sang mahasiswa akan dipanggil, serta akan diberikan waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang menunjukkan paling tidak sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu fisika.

Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, sampai dahinya terlihat berkerut. Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah sangat terbatas. Sang mahasiswa menjawab bahwa dia sudah memiliki berbagai jawaban yang sangat relevan, tetapi tidak bisa memutuskan yang mana yang akan dipakai. Saat diingatkan hakim arbitrase untuk segera menjawab, sang mahasiswa berkata
sebagai berikut:

"Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap gedung pencakar langit. Lemparkan melewati pinggir atap, dan ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa dihitung dari rumus H = 0.5g x t kuadrat. Tetapi ya sayang barometernya.

"Atau, bila matahari sedang bersinar, Anda bisa mengukur tinggi barometer, tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah itu, ukurlah panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan aritmatika proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian pencakar langitnya.

"Tapi kalau anda betul-betul ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat seutas tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seolah pendulum, pertama di permukaan tanah kemudian di atas pencakar langit. Ketinggian pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan gravitasi T = 2 pi akar dari (l/g).

"Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat yang eksternal, akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya barometer sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi pencakar langit = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding pencakar langit.

"Bila Anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya Anda akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap pencakar langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari milibar ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan.

"Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila Anda menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya jika Anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."

Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga Denmark yang memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.